Kerajaan Mughal


Mughal terletak di India dan merupakan salah satu kerajaan atau pemerintahan yang berjasa dalam perkembangan Islam di India. Islam masuk ke India pada tahun 15 sesudah wafatnya Nabi Muhammad sampai pada abad 18. Sedangkan awal kekuasaan Islam di India terjadi masa khalifah al-Walid dari bani Umayyah, yang kemudian dilanjutkan Ghaznawiyah yang mampu menaklukan kerajaan Hindu sekitar tahun 1020 M. Sebelum kerajaan Moghul ini ada beberapa pemerintahan yang ada di India, yaitu Disnati Guri (1173-1206 M), Kerajaan Mamluk (1206-1290 M), Dinasti Khiljia (1290-1320 M), Tugluq (1230-1412) dan Lody (1415-1526) yang kesemuanya disebut Kesultanan Delhi. Kerajaan Moghul berdiri setelah menaklukkan Delhi atas permintaan Ibrahim dan Dinasti Lodi. Penaklukan Delhi pun mendapat tantangan dari beberapa kerajaan Hindu dan adik kandung Ibrahim yang ingin merebut kendali Delhi, namun semuanya dapat ditaklukkan Babur yang waktu itu juga sebagai penguasa dinasti Timurid (1449-1457).[1]

A.           Asal-usul Kerajaan Mughal
Dinasti Mughal di India didirikan oleh seorang penziarah dari Asia tengah bernama Zahiruddin Muhammad Babur (1482-1530 M), salah satu cucu dari Timur Lenk dari etnis Mongol, keturunan Jengis Khan yang telah masuk Islam dan pernah berkuasa di Asia Tengah pada abad ke 15. Ayahnya bernama Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Setelah naik tahta ia mencanangkan obsesinya untuk menguasai seluruh Asia Tengah, sebagaimana Timur Lenk terdahulu. Namun, ambisinya itu terhalang oleh kekuatan Urbekiztan, dan mengalami kekalahan. Tetapi berkat bantuan raja Safawi Ismail I (1500-1524 M),  Babur dapat menguasai Samarkand tahun 1494 M dan pada tahun 1504 M ia menduduki Kabul di ibukota Afganistan.[2]
Dari sini ia memperluas kekuasaannya ke sebelah Timur (India). Saat itu Ibrahim Lodi penguasa India di landa krisis sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Daulah Khan Gubernur Lahore dan Alam Khan paman Ibrahim sendiri melakukan pembangkangan pada tahun 1524 terhadap pemerintahan Ibrahim Lodi, dan meminta bantuan Babur untuk merebut Delhi. Tiga kekuatan itu bersatu untuk menyerang kekuatan Ibrahim, tetapi gagal memperoleh kemenangan. Mereka melihat bahwa Babur tidak sungguh-sungguh membantu mereka. Ketidakseriusan Babur menimbulkan kecurigaan di mata Daulah Khan dan Alam Khan, sehingga keduanya berbalik menyerang Babur. Kesempatan itu tidak disia-siakan Babur, ia berusaha keras untuk mengalahkan gabungan dua kekuatan tersebut. Daulah Khan dan Alam Khan dapat dikalahkan, Lahore dikuasainya pada tahun 1525 M. Dari Lahore ia terus bergerak ke selatan hingga mencapai Panipat. Di sinilah ia berjumpa  dengan pasukan Ibrahim maka terjadilah pertempuran yang dahsyat. Ibrahim beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Babur memperoleh kemenangan yang amat dramastis dalam pertempuran Panipat I (1526 M) itu, karena hanya dengan didukung 26.000 pasukan angkatan perang ia dapat melumpuhkan kekuatan Ibrahim yang di dukung oleh 100.000 pasukan dan 1.000 pasukan gajah. Babur memasuki kota Delhi sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahannya di sana. Dengan demikian berdirilah kerajaan Mughal di India. Kemenangannya yang begitu cepat mengundang reaksi dari para penguasa Hindu setempat. Proklamasi 1526 M yang dikumandangkan Babur mendapat tantangan dari Rajput dan Rana Sanga didukung oleh para kepala suku India tengah dan umat Islam setempat yang belum tunduk pada penguasa yang baru tiba itu, sehingga ia harus berhadapan langsung dengan dua kekuatan sekaligus. Tantangan tersebut dihadapi Babur pada tanggal 16 Maret 1527 M di Khanus dekat Agra. Babur memperoleh kemenangan dan Rajput jatuh ke dalam kekuasaannya. Setelah Rajput dapat ditundukkan, konsentrasi Babur diarahkan ke Afganistan, yang saat itu dipimpin oleh Mahmud Lodi saudara Ibrahim Lodi. Kekuatan Mahmud dapat dipatahkan oleh Babur tahun 1529 M sehingga Gogra dan Bihar jatuh ke bawah kekuasaannya. Pada tahun 1530 M Babur meninggal Dunia dalam usia 48 tahun setelah memerintah selama 30 tahun, dengan meninggalkan kejayaan-kejayaan yang cemerlang.[3]
Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh anaknya Humayun. Humayun, putra sulung Babur dalam melaksanakan pemerintahan banyak menghadapi tantangan. Sepanjang masa kekuasaannya selama sembilan tahun (1530-1539 M) negara tidak pernah aman. Ia senantiasa berperang melawan musuh. Diantara tantangan yang muncul adalah pemberontakan Bahadur Syah, penguasa Gujarat yang memisahkan diri dari Delhi. Pemberontakan ini dapat dipadamkan. Bahadur Syah melarikan diri dan Gujarat dapat dikuasai. Pada tahun 1540 M terjadi pertempuran dengan Sher Khan di Kanauj. Dalam pertempuran ini Hamayun mengalami kekalahan. Ia terpaksa melarikan diri ke Kandahar dan selanjutnya ke Persia. Di Persia ia menyusun kembali tentaranya. Kemudian dari sini ia menyerang musuh-musuhnya dengan bantuan raja Persia, Tahmasp. Humayun dapat mengalahkan Sher Khan Shah setelah hampir 15 tahun berkelana meninggalkan Delhi. Ia kembali ke India dan menduduki tahta kerajaan Mughal pada tahun 1555 M. Setahun setelah itu (1556 M) ia meninggal dunia karena terjatuh dari tangga perpustakaanya, dan seepeninggalnya kerajaan Mughal diperintah oleh anaknya yang bernama Akbar.

B.            Kemajuan Masa Kerajaan Mughal
Masa kejayaan Mughal dimulai pada masa pemerintahan Akbar (1556-1605). dan tiga raja penggantinya, yaitu Jehangir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M), Aurangzeb (1658-1707 M). Setelah itu, kemajuan kerajaan Mughal tidak dapat dipertahankan oleh raja-raja berikutnya. Akbar menggantikan ayahnya, pada saat ia berusia 14 tahun, sehingga seluruh urusan kerajaan diserahkan kepada Bairam Khan, seorang Syi’i. Pada masa pemerintahannya, Akbar melancarkan serangan untuk memerangi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan Shah yang berkuasa di Punjab. Pemberontakan lain dilakukan oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra. Pemberontakan tersebut disambut oleh Bairam Khan sehingga terjadilah peperangan dahsyat, yang disebut Panipat I tahun 1556 M. Himu dapat dikalahkan dan ditangkap kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Agra dan Gwalior dapat dikuasai penuh (Mahmudunnasir, 1981:265-266). Setalah Akbar dewasa, ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran Syi’ah. Bairam Khan memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M. Setelah persoalan dalam negeri dapat diatasi, Akbar mulai menyusun program ekspansi. Ia dapat menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Wilayah yang sangat luas itu diperintah dalam suatu pemerintahan. Hal itu membuat kerajaan Mughal menjadi sebuah kerajaan besar. Wilayah Kabul dijadikan sebagai gerbang ke arah Turkistan dan kota Kandahar sebagai gerbang ke arah Persia. Akbar berhasil menerapkan bentuk politik sulakhul (toleransi universal), yaitu politik yang mengandung ajaran bahwa semua rakyat India sama kedudukannya, tidak dapat dibedakan oleh etnis atau agama. Keberhasilan yang dicapai Akbar dapat dipertahankan oleh penerusnya yang bernama Jehangir, Syah Jehan dan Aurangzeb yang mana mereka memang terhitung raja-raja yang besar dan kuat. Segala macam pemberontakan dapat dipadamkan, sehingga rakyat merasa aman dan damai. Pada masa Syah Jehan banyak pendatang Portugis yang bermukim di Hugli Bengala, menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepada mereka dengan jalan menarik pajak dan menyebarkan agama Kristen. Kemudian Syah Jehan meninggal pada tahun 1658 M dan terjadinya perebutan tahta kerajaan di kalangan istana. Mughal terpecah menjadi beberapa bagian. Shuja menobatkan dirinya sebagai Raja di Bengala. Murad menobatkan dirinya sebagai Raja di Ahmadabad. Shuja bergerak memasuki pemerintahan di Delhi. Namun pasukan Aurangzeb berhasil mengalahkannya pada tahun 1658 M. kemudian Aurangzeb memerangi pasukan Murad dan dimenangkan oleh Aurangzeb. Oleh karena itu, Aurangzeb secara resmi dinobatkan menjadi Raja Mughal. Langkah pertama yang dilakukan oleh Aurangzeb menghapuskan pajak, menurunkan bahan pangan dan memberantas korupsi, kemudian ia membentuk peradilan yang berlaku di India yang dinamakan fatwa alamgiri sampai akhirnya meninggal pada tahun 1707 M.[4]
Selama satu setengah abad, India di bawah Dinasti Mughal menjadi salah satu negara adikuasa. Ia menguasai perekonomian Dunia dengan jaringan pemasaran barang-barangnya yang mencapai Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Cina. Selain itu, India juga memiliki pertahanan militer yang tangguh yang sukar ditaklukkan dan kebudayaan yang tinggi. Kemantapan stabilitas politik karena sistem pemerintahan yang diterapkan Akbar membawa kemajuan dalam bidang-bidang yang lain. Dalam bidang ekonomi, kerajaan Mughal dapat mengembangkan program pertanian, pertambangan dan perdagangan. Akan tetapi, sumber keuangan negara lebih banyak bertumpu pada sektor pertanian. Di samping untuk kebutuhan dalam negeri, hasil pertanian itu di ekspor ke Eropa, Afrika, Arabia dan Asia Tenggara bersamaan dengan hasil kerajinan, seperti pakaian tenun dan kain tipis bahan gordiyn yang banyak di produksi di Bengal dan Gujarat. Untuk meningkatkan produksi, Jehangir mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617 M) mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surat. Bersamaan dengan majunya bidang ekonomi, bidang seni dan budaya juga berkembang. Karya seni terbesar yang dicapai kerajaan Mughal adalah karya sastra gubahan penyair istana, berbahasa Persia dan India. Penyair India yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayazi, dengan karyanya berjudul Padmavat, sebuah karya alegoris yang mengandung pesan kebajikan jiwa manusia (Holt, 1977:57). Pada masa Aurangzeb, muncul seorang sejarawan bernama Abu Fadl dengan karyanya Akhbar Nama dan Aini Akhbari, yang memaparkan sejarah kerajaan Mughal berdasarkan figure pemimpinnya. Karya seni yang dapat dinikmati sampai sekarang dan merupakan karya seni terbesar yang dicapai oleh kerajaan Mughal adalah karya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan. Pada masa Akbar di bangun istana Fatpur Sikri di Sikri, Villa dan masjidmasjid yang indah. Pada masa Syah Jehan dibangun masjid berlapiskan mutiara dan Taj Mahal di Agra, masjid Raya Delhi dan istana indah di Lahore.

C.      Kemunduran Kreajaan Mughal
Kemunduran Moghul sebenarnya sudah dimulai sejak Alamgir II (1754-1759 M), di mana para pembesar atau pejabat mulai memperhatikan kepentingannya sendiri bukan pada upaya memperkokoh kerajaan. Hal ini mempengaruhi stabilitas di bidang-bidang laiinya, administrasi kerajaan mulai amburadul, kecilnya perhatian pada kebutuhan kerajaan seperti pembinaan pasukan yang pada akhirnya nanti memudarkan loyalitasnya. Kondisi ini kemudian diperparah dengan kedatangan bangsa asing, diantaranya Inggris.[5] Pada waktu itu EIC mengalami kerugian. Untuk menutupi kerugian dan sekaligus memenuhi kebutuhan istana, Inggris mengadakan pungutan yang tinggi terhadap rakyat secara ketat dan cenderung kasar. Karena rakyat merasa ditekan, maka mereka, baik yang beragama Hindu maupun Islam bangkit mengadakan pemberontakan. Mereka meminta kepada Bahadur Syah untuk menjadi lambang perlawanan itu dalam rangka me¬ngembalikan kekuasaan kerajaan. Dengan demikian, terjadilah perlawanan rakyat India terhadap kekuatan Inggris pada bulan Mei 1857 M. Perlawanan mereka dapat dipatahkan dengan mudah. Inggris kemudian menjatuhkan hukuman yang kejam terhadap para pemberontak. Mereka diusir dari kota Delhi, rumah-¬rumah ibadah banyak yang dihancurkan, dan Bahadur Syah, raja Mughal terakhir, diusir dari istana (1858 M). Dengan demikian berakhirlah sejarah kekuasaan dinasti Mughal di daratan India.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti Mughal mundur dan membawa kepada kehancurannya pada tahun 1858 M yaitu:[6]
1.    Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan mereka kurang terampil dalam mengoprasikan persenjataan buatan Mughal sendiri.
2.    Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
3.    Pendekatan Aurangzeb yang terlampau "kasar" dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antaragama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
4.    Semua pewaris tahta kerajaan pada paro terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.

D.      Raja-raja yang pernah memerintah kerajaan moghul, dapat dilihat dalam tabel berikut :[7]
No.
Nama
Uraian
1.
Zahirudin Babur (1526-1530)

2.
Humayun (1530-1556)
Menghadapi beberapa pemberontakan diantaranya dari Bahadur Syah dan saudaranya Kamran. Dia juga mengahadapi pasukannya yang tidak lagi loyal
3.
Akbar Syah (1556-1605)
Menerapkan undang-undang yang terkenal dengan Din Ilahi
4.
Jahangir (1605-1627)
Menghadapi pemberontakan anaknya Khusraw dan Syah Jehan
5.
Syah Jehan (1627-1658)
Masih tetap menghadapi pemberontakan, salah satunya dari Khan jahan Lodi, namun dia pun mampu merebut kota Qandahar kembali dari penguasa Persia
6.
Aurengzeb (1685-1707)
Menduduki kekuasaan setelah berebut dengan saudara-saudaranya. Syah Jehan sendiri telah memilih Dara dan ia berhasil membunuhnya. Dia juga yang memindahkan ibu kota kerajaan dari Agra ke Delhi. Banyak menghadapi pemberontakan dikarenakan ia tidak bertoleransi dengan agama lain, seperti adanya larangan untuk praktek-praktek Hindu
7.
Bahadur Syah (1707-1712)
Berkuasa juga setelah menang berselisih dengan saudaranya Azam dan Kam. Dia tidak setegas ayahnya, sehingga kebijakan ayahnya pun tidak taat diteruskan
8.
Jihadur Syah (1712-1713)
Karena terkenal dengan pribadinya yang lemah, maka administrasi kerajaan pun kacau dan dia pun menghadapi pemberontakan Farradh siyar yang kemudian membunuhnya
9.
Farruk Siyar (1713-1719)
Dipaksa wazirnya Abdullah Khan dan Husein Ali Khan yang dulu membantunya untuk menurunkan Jihadur Syah untuk keluar dari Delhi
10.
Muhammad (1719-1740)
Cucu Bahadur Syah dan saat inilah Mizamul Mulk menjadi perdana mentrinya. Namun tidak bertahan lama sehingga Muhammad menghadapi kekuatan Syiah yang mulai bangkit, sehingga terjadi pembunuhan terhadap 30.000 orang di Delhi yang dilakukan Nader Syah raja Persia
11.
Ahmad Syah (1748-1754)
Menghadapi pemberontakan wazirnya Safdar Jang dan pemberontakan cucu Nazamul Mulk, Imadul Mulk yang berhasil mengusir Ahmad Syah dari Delhi
12.
Alamgir II (1754-1759)
Anak Jihadur Syah dan diangkat Imadul Mulk dan dibunuh juga oleh Imadul Mulk
13.
ALAM II (1759-1806)
Sebelumnya Syeh Jehan III yang memerintah atas dukungan Imadul Mulk, namun saat diturunkan oleh pimpinan militer Persia. Masa ini juga menghadapi Inggris dan dibunuh oleh Rohila
14.
Akbar II (1806-1837)
Masih menghadapi kekuasaan Inggris dan pemberontakan suku-suku di India
15.
Bahadur Syah II (1837-1858)
Kekuasaan Inggris semakin kuat

E.            Peta Kekuasaan Dinasti Mughal

KESIMPULAN
Islam telah mewariskan dan memberi pengayaan terhadap khazanah kebudayaan India. Sepertinya tepat yang ditulis oleh Roger Garaudy bahwa "Islam telah membawakan kepada manusia suatu dimensi transenden (ketuhanan) dan dimensi masyarakat (umat).
Dengan hadirnya Kerajaan Mughal, maka kejayaan India dengan peradaban Hindunya yang nyaris tenggelam, kembali muncul.
Kemajuan yang dicapai Kerajaan Mughal telah memberi inspirasi bagi perkembangan peradaban dunia baik politik, ekonomi, budaya dan sebagainya. Misalnya, politik toleransi (sulakhul), system pengelolaan pajak, seni arsitektur dan sebagainya.
Kerajaan Mughal telah berhasil membentuk sebuah kosmopolitan Islam-India daripada membentuk sebuah kultur Muslim secara eksklusif.
Kemunduran suatu peradaban tidak lepas dari lemahnya kontrol dari elit penguasa, dukungan rakyat dan kuatnya sistem keamanan. Karena itu masuknya kekuatan asing dengan bentuk apapun perlu diwaspadai.


DAFTAR RUJUKAN


Abubakar Istianah. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Malang: UIN Malang Press
Dr. Badri Yatim. 2006. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Prenada. 2003. Sejarah Islam Klasik. Jakarta: PT Raja Grafindo



[1] Abubakar Istianah, Sejarah Peradaban Islam, (Malang: UIN Malang Press , 2011), hal 133
[2] Prenada, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2003), hal 258
[5] Abubakar Istianah, Sejarah peradaban Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2011), hal 137
[6] Dr. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), hal 163
[7] Abubakar Istianah, Sejarah Peradaban Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2011), hal 133

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

powered by
Socialbar