Landasan dan Kurikulum Pembelajaran Tematik


A.      PENDAHULUAN
Pada pembahasan yang telah lalu kita telah membahas tentang Pembelajaran tematik yang lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik tersebut dapat memperoleh pengalaman langsung dan  terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran yang dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Nah, untuk selanjutnya pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang apa saja yang menjadi landasan dan kurikulum pembelajaran tematik. Untuk lebih jauhnya, simak pembahasan ini.

B.       Landasan Pembelajaran Tematik
1.    Landasan Filosofis
Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme.[1]
a.    Progresivisme, penekanan proses pembelajaran pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang natural dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran ini menghubungkan pengalaman anak-anak di kehidupan sehari-harinya dapat meningkatkan kreativitas anak sehingga pembelajaran dapat menjadi lebih bermakna.
b.    Konstruktivisme, penekanan pembelajarannya pada pengetahuan siswa yang dibangun sendiri melalui pengalaman langsung dan pembelajarannya bersifat student centered. Aliran ini pada dasarnya pengetahuan tidak dapat ditransfer langsung oleh guru tanpa siswa harus mengalami atau membuktikannya sendiri, selain itu pembelajaran tematik juga memusatkan pembelajaran pada siswa bukan pada guru.
c.    Humanisme, penekanan pada segi keunikan/kekhasan, potensi dan motivasi yang dimiliki setiap siswa. Aliran ini setiap anak berhak mengembangkan dan mengoptimalkan bakat dan minatnya yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. Sehingga pembelajaran tematik dimaksudkan untuk memfasilitasi tiap keunikan anak agar berkembang secara optimal.

2.        Landasan Psikologis
Landasan psikologis terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar.[2] Berarti dapat dikatakan bahwa di dalam landasan psikologis pembelajaran tematik terdapat dua point penting yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar anak. Psikologi perkembangan berperan untuk menentukan isi materi pelajaran anak SD kelas awal sedangkan psikologi belajar berperan untuk menentukan cara penyampaian materi terhadap siswa siswi sehingga pembelajaran tematik dapat berjalan dengan baik dan lebih bermakna karena sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan anak pada usia kelas awal SD.

3.        Landasan Yuridis
Landasan Yuridis pembelajaran tematik berkaitan dengan kebijakan pemerintahan, antara lain:
a.       UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9).[3] UU ini digunakan karena dengan menggunakan pembelajaran tematik, dapat mengoptimalkan pendidikan dan pengajaran anak didik sejak dini sehingga dapat memenuhi tuntutan global dan disesuaikan dengan tingkat kecerdasan serta kebutuhan siswa. Selain itu pembelajaran tematik juga mampu menggali bakat dan potensi anak yang memungkinkan pembelajarannya bisa lebih bermakna dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
b.      UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Bab V Pasal 1b) yang menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya.[4] UU ini digunakan sebagai landasan yuridis pembelajaran tematik karena pembelajaran tematik dapat mewadahi kebutuhan belajar anak yang di integrasikan dengan bakat dan minat siswa di semua sekolah atau satuan pendidikan dan tak terkecuali para peserta didik yang kurang beruntung atau kurang mampu secara finansial.

C.       Kurikulum Pembelajaran Tematik
Model kurikulum pembelajaran terpadu menurut beberapa ahli kurikulum menyatakan bahwa yang termasuk di dalam pembelajaran tematik meliputi (1) pengorganisasian dan (2) klasifikasinya.[5]
1.         Pengorganisasian kurikulum.
Dalam pengorganisasian kurikulum pembelajaran tematik ini terdiri dari perpaduan antara dua kurikulum atau lebih yang menjadi satu kesatuan utuh, dan dalam pengaplikasiannya pada kegiatan pembelajaran diharapkan mampu memberikan semangat belajar sehingga pembelajaran tersebut menjadi lebih bermakna serta peserta didik masing-masing membangun diri sendiri pemahaman konsep baru.
Dilihat dari organisasi kurikulum pada umumnya, ada tiga tipe kurikulum pembelajaran, yakni: Separated Subject Curiculum, Correlated Curriculum, dan Integrated Curriculum.[6]
a.       Separated Subject Curiculum
Antara mata pelajaran satu dengan yang lain tidak saling berkaitan. Sehingga banyak jenis mata pelajanan menjadi sempit ruang lingkupnya.
b.      Correlated Curriculum
Dalam kurikulum ini terdapat hubungan antara mata pelajaran satu dengan mata pelajaran yang lain, namun dalam keterhubungan tersebut masih tetap memperhatikan karakteristik tiap mata pelajaran. Pembelajaran dalam kurikulum ini tidak menggunakan tema namun dengan cara mengaitkan satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain. Korelasi pada model kurikulum ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu insidental (secara kebetulan terdapat hubungan antar mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain), hubungan yang lebih erat, dan Broad Field (batas mata pelajaran disatukan dan difungsikan).
c.       Integrated Curriculum
Kurikulum ini memusatkan pembelajaran pada topik atau tema tertentu yang di dalam tema tersebut terdapat beberapa mata pelajaran yang saling berhubungan dan batasan dari tiap mata pelajaran seolah tidak terlihat. Tema yang disajikan dikaitkan dengan kehidupan siswa siswi sehari-hari sehingga para siswa dapat lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Model kurikulum ini sangat cocok bila diterapkan pada pembelajaran tematik anak SD kelas awal.
Kelebihan Integrated Curriculum ini adalah:
a)    Segala permasalahan yang dibicarakan dalam unit bertalian erat
b)   Sangat sesuai dengan perkembangan modern tentang belajar-mengajar
c)    Memungkinkan adanya hubungan antara sekolah dan masyarakat, d) sesuai dengan ide demokrasi
d)   Penyajian bahan disesuaikan dengan kemampuan siswa.
Kekurangan Integrated Curriculum antara lain:
a)        Guru tidak dilatih menggunakan kurikulum seperti ini
b)        Organisasinya tidak logis dan kurang sistematis
c)        Terlalu memberatkan tugas guru
d)       Kurang memungkinkan untuk dilaksanakan ujian umum
e)        Sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan kurikulum ini kurang memadai
f)         Sulit dalam hal evaluasi.

2.         Klasifikasi Pengintergasian Tema
Pembelajaran terpadu dibedakan berdasarkan pola pengintegrasian materi atau tema. Berdasarkan pola tersebut terdapat sepuluh model pembelajaran terpadu, yaitu; (1) The fragmated model (model tergambarkan), (2) the connected model (model terhubung), (3) the nested model (model tersarang), (4) The squanced model (model terurut), (5) the model (model terkombinasi), (6) the webbed model (model terjaring), (7) threaded (model terantai), (8) Intregated (model keterpaduan), (9) Immersed (model terbenam), dan (10) networked (model jaringan kerja)
Secara umum dari kesepuluh model pembelajaran terpadu tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) klasifikasi pengintegrasian kurikulum, yakni; pertama, pengintegrasian di dalam satu disiplin ilmu; kedua pengintegrasian beberapa disiplin ilmu; dan ketiga, pengintegrasian di dalam dan beberapa disiplin ilmu.[7]
a.       Pengintegrasian di dalam satu disiplin ilmu. Dalam model pembelajaran ini yang ditautkan adalah dua atau lebih bidang ilmu yang serumpun. Contohnya pada bidang ilmu sosial, menautkan antara dua tema dalam sejarah dan geografi yang memiliki relevansi. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa model ini sifat perpaduannya hanya dalam satu rumpun bidang studi.
b.      Pengintegrasian beberapa disiplin ilmu (antar disiplin ilmu). Model pembelajaran ini menautkan antar disiplin ilmu yang berbeda. Contohnya antara tema yang ada dalam ilmu sosial dengan bidang ilmu alam.
c.       Pengintegrasian di dalam satu dan beberapa disiplin ilmu (multi disiplin ilmu) Model pembelajaran ini merupakan gabungan dari dua model pengintegrasian yang telah dibahas sebelumnya. Model ini menautkan antar bidang ilmu yang serumpun maupun bidang ilmu yang berbeda. Misalnya tema kebersihan yang dalam pengajarannya dapat dihubungkan dengan bidang studi agama, teknologi, matematika, ilmu sosial maupun ilmu alam. Dengan begitu semakin mudah dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa, hal ini dikarenakan pada dasarnya tak ada satupun permasalahan yang dapat ditinjau hanya dari satu sisi saja dan hal inilah yang menjadi prinsip utama dalam pembelajaran terpadu.


Klasifikasi Pengintegrasian Kurikulum[8]
No.
Klasifikasi Pengitegrasian
Model Pembelajaran Terpadu
1
Pengintegrasian di dalam satu disiplin ilmu
The pragmated model (model tergambarkan), the connected model (model terhubung), the niested model (model tersarang)
2
Pengintegrasian beberapa disiplin ilmu
The squanced model (model terurut), shared model (model terkombinasi), webbed model (model terjaring), threaded (model terantai), dan Intregated (model keterpaduan)
3
Pengintegrasian di dalam satu dan beberapa disiplin ilmu
Immersed (model terbenam), dan networked (model jaringan kerja

D.      KESIMPULAN
Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: progresivisme, konstruktivisme, dan humanisme. Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi  belajar. Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar.
Model kurikulum pembelajaran terpadu menurut beberapa ahli kurikulum menyatakan bahwa yang termasuk di dalam pembelajaran tematik meliputi pengorganisasian dan klasifikasinya.



E.       DAFTAR RUJUKAN   
http://tunas63.wordpress.com/2009/09/07/landasan-pembelajaran-tematik/
http://blog.tp.ac.id/landasan-filosofis-psikologis-dan-yuridis-pembelajaran-tematik#ixzz1o172c7ji,  
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=landasan+yuridis+tematik&source=web&cd=5&ved=0CDcQFjAE&url=http%3A%2F%2Ftarmizi.files.wordpress.com%2F2008%2F12%2Flandasan-pembelajaran-tematik4.doc&ei=8PNZT4m9Oo23rAfFhZGbDA&usg=AFQjCNES1o3RF3sEcd1tEucDYEGTjO98PA&cad=rja
Paket 2 Lapis Pembelajaran Tematik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

powered by
Socialbar